Panduan Keselamatan Kerja Prakarya
B Hartanto
Semua jenis pekerjaan tentunya memiliki resiko akan terjadinya kecelakaan maupun cedera, tidak terkecuali juga untuk para pekerja seni atau prakarya. Oleh karenanya kita harus selalu siaga untuk hindari terjadinya banyak hal yg tidak diinginkan. Terdapat banyak hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan untuk meminimalisir atau bahkan menghapuskan peluang kecelakaan atau cedera dalam bekerja.
Setiap tipe pekerjaan akan hadapi peluang yang berbeda, baik dalam frekwensi maupun kemampuannya, demikian juga dengan beberapa pekerja prakarya. Karena itu menghindar dan perlakuannya akan berbeda. Untuk Anda beberapa pekerja prakarya, berikut ini yakni beberapa langkah keselamatan kerja prakarya yang dapat diikuti :
Memakai alat pelindung diri
Apapun tipe pekerjaannya, alat pelindung diri atau alat safety yakni hal utama yang perlu diperhatikan. Seperti namanya, perlengkapan ini memiliki manfaat sebagai pelindung tubuh dari bermacam peluang ekcelakaan atau cedera yang mungkin terjadi. Ada sangat banyak tipe alat pelindung diri dimana setiap jenisnya memiliki bentuk dan manfaat berbeda pada satu dengan yang lain. Seperti misanya sarung tangan bikin perlindungan tangan, safety herness bikin perlindungan tubuh, safety helm bikin perlindungan kepala, sepatu safety online bikin perlindungan kaki dll. Untuk peroleh perlindungan maksimal, gunakan alat safety sama seperti kepentingan dan tipe pekerjaan yang dilakukan.
Memakai peralatan yang terstandard
Gunakan alat-alat terstandard yang selain memiliki fitur keamanan dan keselamatan akan berikan hasil kerja yang lebih optima. Sebelumnya memutuskan untuk membelinya, kenali dengan baik bagaimna fitur dari semasing alat, pastikan untuk memilih alat yang memasukkan fitur keselamatan dan keamanan penggunanya.
Memakai bahan yang aman
Selain peralatan, pemilihan bahan juga harus diperhatikan. Dalam system prakarya, pastinya akan ada objek utama yang di sistem, inilhah waktu lalu disebutkan sebagai bahan.
Siapkan P3K
P3K bertindak sebagai perlakuan saat terjadi kecelakaan kerja. Ini yaitu piranti yang sangat penting dan harus ada. Tentang kelengkapannya menyesuaikannya dengan peluang kecelakaan yang mungkin terjadi, misalnya luka sayat pisau, maka P3K harus terdiri dri kapas, pembersih luka, obat merah, plester dll.
Tahu standard operational procedure
Seperti pekerjaan yang lain, dalam kerja prakarya, juga terdpat SOP atau standard operation procedur yang perlu diikuti, baik dalam penggunaan peralatan maupun dalam pemrosesan bahan. Dengan ikuti SOP maka peluang kecelakaan atau cedera akan minimalisir atau bahkan dijauhi.
Tatacara Penanganan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
B Hartanto
Dalam kegiatan kita sehari-hari kerapkali kita kontak dengan bahan beresiko dan beracun (B3) serta membuahkan limbah B3. Hal semacam ini bukan sekedar terjadi ditempat kerja saja namun dapat pula dirumah ataupun sekitar lingkungan. Sebelumnya selanjutnya bagaimana kita menanggapi hal semacam ini, sesungguhnya apakah yang disebut dengan B3 dan limbah B3 itu?
Bahan Beresiko dan Beracun (B3) yaitu bahan yang karena karakter dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik dengan cara langsung ataupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup yang lain (berdasar pada PP No 74 th. 2001 mengenai Pengelolaan B3)
Limbah Bahan Beresiko dan Beracun (LB3) yaitu sisa suatu usaha dan atau aktivitas yang mengandunng bahan beresiko dan atau beracun yang karena karakter dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik dengan cara segera ataupun tidak segera, dapat mencemarkan dan atau mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup yang lain (berdasar pada PP No 85 th. 1999 mengenai Pengelolaan Limbah B3)
Dari kedua pengertian diatas kita dapat dengan sendirinya mengkategorikan sebuah bahan yang kita pakai atau kita hasilkan dari aktivitas kita termasuk B3 atau bukanlah. Ketika kita bicara mengenai B3 dan limbah B3, kita tidak dapat mengidentikan dengan bahan yang berbentuk toksin saja. Karena berdasar pada PP No 74 th. 2001 B3 diklasifikan sebagai bahan berikut ini : mudah meledak (explosive), pengoksidasi (oxidising), sangat mudah sekali menyala (extremely flammable), sangat mudah menyala (highly flammable), mudah menyala (flammable), sangat sangat beracun (highly toxic), sangat beracun (highly toxic), beracun (toxic), beresiko (harmful), korosif (corrosive), berbentuk iritasi (irritant), beresiko untuk lingkungan (dangerous to the environment), karsinogenik (carcinogenic), teratogenik (teratogenic), mutagenik (mutagenic). Dan berdasar pada PP No 85 th. 1999 klasifikasi limbah B3 yaitu bahan yang mudah meledak, mudah terbakar, reaktif, beracun, mengakibatkan infeksi dan korosif.
Setelah kita ketahui mengenai pengertian dan klasifikasi dari B3 dan limbah B3, kita tak perlu takut untuk bekerja dengan beberapa bahan itu. Pada saat kita memperlakukan beberapa bahan itu sesuai ketentuan yang berlaku selama itu pulalah kita dapat menyingkirkan peluang terburuk yang akan nampak. Mengenai tatacara yang benar dalam memperlakukan B3 ataupun limbah B3 yang benar yaitu sbagai berikut :
1. ketahui dengan apa kita bekerja atau apa yang kita hasilkan dari pekerjaan kita untuk meyakinkan kita memperlakukannya dengan benar
2. pakai alat pelindung diri yang dibutuhkan seperti sepatu safety dan lainnya
3. gunakan indentitas (lambang dan label) pada beberapa bahan itu untuk menyingkirkan salah pemakaian
4. letakkan bahan/limbah itu pada tempat yang seharusnya
5. buang sisa maupun paket bahan itu sesuai ketentuan yang berlaku
6. jangan sampai melakukan pencampuran beberapa bahan itu dengan cara serampangan
7. khusus untuk pengelolaan limbah B3 terdapat hal penambahan yang perlu di perhatikan yakni :
a. Limbah B3 yang dibuat hanya bisa di proses oleh pihak yang memang telah memperoleh ijin dari KLH
b. Melaporkan kemampuan pengelolaan limbah B3 minimum setiap 3 bln. ke lembaga yang ditunjuk
c. Melakukan penyimpanan limbah B3 optimal 90 hari ditempat penyimpanan sesaat yang berijin
Dengan melakukan perlakuan yang benar pada B3 dan LB3 kita telah ikut menyelamatkan diri dan lingkungan pada efek yang dapat muncul. Mudah-mudahan sedikit tulisan ini berguna.
Tips Keselamatan Kerja di Area Dapur
B Hartanto
Objective : untuk melindungi keselamatan kerja dan mencegah sekecil mungkin terjadinya accident di arel kerja
Pemicunya dan mencegahnya :
1. Lantai : harus kering, bebas dari barang perintang, alat dapur yg tidak terpakai di pindahkan/di atur rapi. Disarankan menggunakan sepatu safety online untuk menghindari slip atau terpeleset.
2. Mesin ex : slicing/chopping mesin
Janganlah memakai bila belum tahu cara penggunaannya, katup pengaman harus terpasang dengan baik, janganlah memasukkan tangan untuk menghimpit barang yang dipotong, janganlah buka pengaman apabila mesin tengah on, apabila bersihkan cabut kontak listriknya.
3. Pisau
Gunakan dengan harusnya, harus selalu tajam sebab apabila tumpul semakin lebih beresiko, pakai alas apabila memotong suatu hal, taruh/menyimpan pisau ditempat yang mudah terlihat ex : simpan dalam satu container yang diisi air, janganlah mengambil pisau yang jatuh tiba – tiba
4. Barang pecah – belah
Janganlah mengambil es dengan gelas sebab apabila terjadi keadaan dari hangat ke dingin dengan cara tiba – tiba maka dapat menyebabkan gelas pecah dalam pengambilan kita, buka tutup botol dengan alat yang sesuai
5. Daging dan ikan
Baiknya di potong dalam kondisi lembek sebab ketika beku tulangnya jadi keras dan bila tertusuk tangan dapat mengakibatkan infeksi
6. Luka bakar
Di untuk jadi dua : 1. luka bakar kering ex : di sebabkan oleh pan yang panas/tray yang panas, sengatan oven, dan 2. luka bakar basah ex : uap dan air panas
Mencegah yaitu :
- Gunakanlah afron dengan harusnya untuk hindari cipratan minyak panas maupun air panas
- Pakai lap kering pada saat mengambil barang panas
- Janganlah menyimpan cairan diatas pandangan mata
- Apabila menggoreng tinggi minyak 2/3 daripada kemampuannya untuk hindari agar tidak meluap (over load), janganlah memasukkan bahan yang terlalu basah, memasukkan bahan sedikit untuk sedikit, siapkan selalu skimmer/strainer.
Budaya K3 dalam Praktikum Kimia
B Hartanto
Ketrampilan bekerja di laboratorium dapat didapat mahasiswa melalui aktivitas praktikum. Makin sering dan serius mahasiswa bekerja di laboratorium maka mereka akan makin trampil. Ketrampilan ini sangat diperlukan untuk mensupport kelancaran riset pekerjaan akhir atau bahkan juga sebagai penunjang kelancaran pekerjaan jika telah terjun ke dunia kerja suatu saat kelak. Mahasiswa, Laboratorium, dan praktikum seakan jadi suatu kesatuan yg tidak terpisahkan. Di segi lain laboratorium adalah tempat yang sangat mengerikan. Karena didalam laboratorium diisi beragam alat dan bahan kimia yang sangat mungkin menyebabkan bahaya. Peluang bahaya tersebut di antaranya yaitu akibat ada beberapa bahan kimia yang berbentuk karsinogenik (dapat mengakibatkan kanker) baik karena uapnya atau karena paparan bahan tertentu di kulit, bahaya kebakaran, bahaya keracunan, dan pontensi bahaya yang lain. Di samping hal semacam itu orang yang bekerja di laboratorium (praktikan, laboran, dan yang lain) dihadapkan pada pekerjaan dengan kemungkinan yang besar, yang karena sebab dalam setiap percobaan dipakai :
1. Bahan kimia yang memiliki karakter mudah meledak, mudah terbakar, korosif, karsinogenik, dan beracun.
2. Alat-alat gelas yang mudah pecah dan dapat tentang badan kita.
3. Alat-alat listrik seperti : kompor listrik, oven, lampu pemanas, lampu UV dan lain sebagainya, yang mengakibatkan terjadinya sengatan listrik.
4. Penangas air atau minyak yang bersuhu tinggi yang bisa terpercik.
Untuk hindari kecelakaan kerja yang mungkin terjadi, mahasiswa sebaiknya memakai alat perlindungan diri sesuai ketetapan. Pada tabel berikut dihidangkan beberapa contoh alat perlindungan diri. Untuk melakukan praktikum kimia, mahasiswa minimum harus memakai jas laboratorium lengan panjang dan kacamata pelindung (gogle).
Ada potensi bahaya ini tidak harus ditakuti terlalu berlebih dengan selalu hindari aktivitas praktikum atau berbentuk pasif didalam setiap acara praktikum. Tetapi kita harus melakukan tindakan lebih aktif dan mencari tahu setiap potensi bahaya yang bisa muncul didalam laboratorium agar kita selalu siaga dan waspada dalam setiap aksi agar selalu terlepas dari setiap bahaya yang bisa terjadi setiap saat.
Beberapa hal yang semestinya kita kerjakan ketika bekerja di laboratorium diantaranya yaitu :
1. Step persiapan
- Tahu dengan cara tentu (tepat dan akurat) apa yang akan ditangani pada acara praktikum, dengan mambaca panduan praktikum, tahu maksud dan cara kerja dan bagaimana data percobaan akan didapat, tahu beberapa hal atau aksi yang perlu dihindarkan, misalnya menghindari bahan yang mudah terbakar dengan sumber api, buang sampah dan limbah praktikum pada tempat yang sudah ditetapkan dsb.
- Tahu beberapa karakter bahan yang akan dipakai apakah berbentuk mudah terbakar, berbentuk toksin, karsinogenik atau membahayakan dsb, hingga dapat terlepas dari potensi bahaya yang bisa diakibatkan berbahan kimia yang dipakai.
- Tahu alat dan bagaimana merangkai alat dan cara kerja alat yang akan dipakai.
- Menyiapkan perlengkapan pelindung badan seperti, jas laboratorium berwarna putih lengan panjang, kacamata gogle, sarung tangan karet, sepatu safety, masker, dsb sesuai keperluan praktikum.
2. Step pelaksanaan
- Kenakan perlengkapan pelindung badan dengan baik.
- Mengambil dan mengecek perlengkapan dan bahan yang akan dipakai.
- Merangkai alat yang dipakai dengan tepat, dan mengambil bahan kimia seperlunya. Pemakaian bahan kimia JANGAN SAMPAI BERLEBIHAN karena dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan.
- Buang sisa percobaan pada tempatnya sesuai sama karakter sisa bahan yang dipakai.
- Bekerja dengan teratur, tenang dan telaten, tulis data-data yang diperlukan.
3. Step pasca pelaksanaan
- Kembalikan perlengkapan dan bahan yang dipakai sesuai posisi awal mulanya.
- Hindari bahaya yang mungkin terjadi dengan mematikan perlengkapan listrik, kran air, tutup tempat bahan kimia dengan rapat (dengan tutupnya awal mulanya).
- Bersihkan tempat atau meja di mana kalian bekerja.
- Keluarlah dari laboratorium dengan teratur.
Fakta yang terjadi sampai saat ini, bekerja di laboratorium tidak pernah memerhatikan kemungkinan yang terjadi di laboratorium. Hal semacam ini karena sebab kurangnya pengetahuan kemungkinan atau bahaya bekerja di laboratorium atau kurangnya kesadaran pada kesehatan dan keselamatan kerja di laboratorium.
LIFE JACKETS (Jenis & Macam Jacket Pelampung)
B Hartanto

Baju pelampung (life jackets) ialah perangkat yang didesain untuk membantu pengguna, baik secara sadar atau dibawah sadar, untuk tetap mengapung dengan mulut dan hidung berada diatas permukaan air atau ketika berada di air. Piranti yang didesain dan di setujui oleh pihak yang berwenang dalam hal semacam ini biro klasifikasi indonesia untuk dipakai oleh sipil dalam rekreasi berlayar, pelaut, seperti, kano, dan lain-lain). Pakaian pelampung yang tidak sama didesain untuk dipakai oleh penumpang dan awak pesawat dari (helikopter, pesawat hawa) dan kapal komersial (kapal menunda, kapal penumpang, feri, kapal laut). Piranti yang dipakai oleh militer (angkatan hawa, pasukan khusus, marinir, angkatan laut, penjaga pantai) dan kepolisian.
Busa steriofoam
Adalah bentuk pakaian pelampung yang paling simpel, terbuat dari busa steriofoam yang dibungkus di dalam pakaian pelampung. Banyak dipakai sebagai piranti keselamatan kapal, bis air, perahu. Biasanya memakai warna orange agar memudahkan sistem evakuasi apabila terjadi bencana. Biasanya diperlengkapi dengan lampu yang hidup apabila baterainya terendam air dan peluit.
Pelampung balon udara
Pelambung balon hawa yang diletakkan di dalam pakaian pelampung yang diperkembang dengan menarik penyebab hawa (tabung co2) yang akan isi ruang di dalam pakaian pelampung dan biasanya diperlengkapi dengan peniup manual apabila tabung co2 tidak berperan. Adalah peralatan pesawat terbang standard.
Jenis - Jenis Pelampung, keamanan pada berolahraga yang berhubungan dengan air harus benar - benar juga di perhatikan, salah satu alat keamanan untuk berolahraga maupun aktivitas yang berhubungan dengan air yakni Life Jacket atau Jaket Penyelamat atau dapat juga dimaksud dengan pelampung. Pekerja diwajibkan untuk selalu menggunakan alat pelindung diri saat bekerja untuk menghindar resiko cedera yang lebih membahayakan seperti menggunkan pakaian keselamatan, sepatu safety online, kacamata keselamatan, dan lain sebagainya.
Di sini terdapat 5 jenis Personal Flotation Devices, jaket penyelamat di air untuk perseorangan diliat dari memiliki bentuk.
1. Offshore Life Jacket
Type type ini memang didesain untuk keadaan perairan terbuka, mengkondisikan daerah muka tetaplah berada diatas karena support 20 pon spon apung. Pada kondisi terpencil yang bisa di pastikan pertolongan akan lambat datang, Jaket ini didesain untuk dapat tahan lama.
2. Near-Shore Vest
Type classic, biasanya dapat untuk dewasa dan anak-anak. Didesain untuk kondisi air tenang dan tidak berarus. Baiknya pertolongan selekasnya datang.
3. Flotation Aid
Type ini yang sering dan banyak dipakai oleh orang, memiliki bentuk sangat nyaman, banyak macam, bentuk dan typenya. Type standard ini dapat untuk penyelamatan di perairan yang tenang.
4. Throwable Device
bantal atau cincin pelampung yang didesain untuk dilempar pada seorang dalam kesusahan. Mereka tidak selama berjam-jam di perairan, tidak dapat berenang atau tidak sadar.
5. Special Use Device
Disebut juga jaket hybrid (paduan), memakai rompi khusus yang dapat juga dipakai untuk bekerja. Rompi khusus ini dapat memberi perlengkapan tiup untuk mensupport daya apung lebih tinggi.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)









